Bencana alaqm yang di sebabkan oleh manusia

Banjir Besar Jakarta Awal Februari 2009

BANDUNG, SENIN – Banjir lebih besar diperkirakan akan menerjang Jakarta pada awal Februari 2009. Penyebabnya adalah perubahan pola pembentukan awan, aktivitas bulan pu rnama dan bulan bar, serta banjir kiriman dari daerah lain.

Menurut Wakil Ketua Kelompok Kerja Adapatasi Perubahan Iklim Dewan Nasional Perubahan Iklim, Army Susandi, di Bandung, Senin (19/1) banjir di Jakarta akan lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya. Bila dahulu hujan hanya turun di daerah luar Jakarta. Saat Februari 2009, akan turun tepat di atas Jakarta. Curah hujannya mencapai 400 milimeter per bulan.

Salah satu penyebabnya adalah perubahan pola pembentukan awan dan jatuhnya hujan akibat polusi udara. Partikel yang dihaslkan polusi udara di daerah utara mengikat awan yang seharusnya turun di selatan. Artinya, hujan yang biasanya turun deras di sekitar Bogor, Bekasi , dan Depok, terlebih dahulu justru jatuh di Jakarta.

Rob pasang juga akan terjadi mengingat sekitar 26 Januari 2009 akan terjadi bulan baru yang sangat berpengaruh pada aktivitas pasang di laut. Bila terlalu besar justru menimbulkan efek air kembali. Air dari darat tidak bisa ke laut karena tertahan di pantai atau muara.

“Aktivitas ini akan menimbulkan dampak besar. Bila hujan turun di Jakarta, ditambah dengan rob air pasang, serta banjir kiriman kurang dari enam jam. Saya berani katakan Jakarta akan lumpuh karena intensitas banjir meningkat 20 hingga 30 persen dibandingkan tahun lalu,” kata Army.

  • Tanah Longsor di Banjarnegara Menewaskan 12 Orang dan 200 Dinyatakan Hilang

Tanah longsor yang dipicu oleh hujan lebat di Banjarnegara, Jawa Tengah, menewaskan paling sedikit 12 orang dan 200 orang hilang dan dikhawatirkan tewas.

Sebagian besar yang hilang adalah penduduk desa Cijeruk, yang tertimbun di bawah berton-ton lumpur dan batu hari Rabu pagi.

Pihak berwenang di tempat kejadian mengatakan usaha penyelamatan terhambat oleh jalan-jalan yang tidak aman.

Hujan deras menyebabkan terjadinya tanah longsor dan banjir bandang di Jember, Jawa Timur hari Senin, menewaskan paling sedikit 57 orang dan menyebabkan ribuan orang kehilangan tempat tinggal.

Banjir dan tanah longsor biasa terjadi di Indonesia dalam musim hujan. Banyak tanah longsor disebabkan oleh penebangan hutan ilegal dan pembukaan lahan pertanian.

  • Bencana Situ Gintung Ulah Manusia

INILAH.COM, Jakarta – Tanggul Situ Gintung di Ciputat, Tangerang, jebol. Air tumpah ke perumahan dan mencabut puluhan nyawa. Situ Gintung memberi pelajaran, manusia janganlah bermain-main dengan alam karena alam tak pernah salah. Mengapa alam menjadi jahat?

Aan Rukmana, dosen Jurusan Falsafah dan Peradaban, Universitas Paramadina mengatakan alam pada dirinya adalah baik. Demikian pun Situ Gintung. Menurutnya, alam tidak pernah salah pada dirinya. Kesalahan alam terjadi dalam relasinya dengan sesuatu di luar dirinya, yaitu manusia.

Dalam kaitannya dengan manusia itulah, lanjut Aan, Situ Gintung menjadi jahat. Dengan demikian, konsep kejahatan Situ Gintung muncul dalam relasinya dengan manusia. Jebolnya tanggul, dari sudut pandang alam sendiri, sebenarnya baik, karena alam boleh jadi sedang melakukan peremajaan. Namun, dalam kaca mata manusia justru sebaliknya, jahat.

Kejahatan, menurut Aan, tidak memiliki eksistensi dan karena itu kejahatan menjadi tidak ada. Yang eksis adalah yang baik. Bencana alam, menurut Aan, adalah eksis. Namun, kebaikan itu menjadi jahat dalam relasinya dengan manusia. “Kalau manusia melihat konteks bencana Situ Gintung dari kaca mata dirinya (manusia) tentu itu menjadi kejahatan,” paparnya.

Namun, kejahatan itu tidak mutlak, karena kejahatan itu terkait dengan manusia sendiri. Untuk itulah, Aan menekankan tentang pentingnya dimensi tanggung jawab manusia terhadap alam. “Bagaimanapun, manusia bertanggung jawab terhadap alam karena alam pada dirinya adalah baik,” imbuhnya.

Tanggul Situ Gintung, menurut Aan, merupakan hasil dari usaha manusia. Dengan pembuatan tanggul itu manusia memanfaatkan air yang ada di dalamnya, baik untuk kepentingan wisata, irigasi dan lain-lain. Tetapi, usaha manusia itu tidak ditindaklanjuti dengan penjagaannya sebagai dimensi tanggung jawab manusia atas alam. “Penjagaan itu tidak dilakukan alias lalai,” tegas Aan.

Karena mansia lalai atas dimensi tanggung jawabnya terhadap alam, manusia sendirilah yang menjadi korban. “Tapi itu bukan salah alam. Bagaimanapun juga alam menjadi jahat karena ulah manusia juga,” pungkasnya. ”Karena itu, janganlah bermain-main dengan alam.”

  • Kebakaran Hutan Mencapai 677,8 ha

Kebakaran dalam kawasan hutan di Kab. Garut sejak akhir Juli hingga akhir September 2006 luasnya telah mencapai lebih dari 677,8 hektare (ha). Sedangkan kebakaran di atas lahan milik masyarakat lebih luas lagi, yaitu mencapai 1.005,5 ha yang tersebar di beberapa lokasi.

Kebakaran terjadi diduga kuat akibat kelalaian manusia yang melakukan pembakaran lahan tanpa disertai upaya pengendalian. Demikian dikemukakan Kepala Dinas Kehutanan Garut, Ir. Suwarna didampingi Kabid Pengamanan Hutan, Ir. Dindin Hafiudin saat ditemui “GM” di kantornya, Kamis (12/10).

“Data kawasan hutan yang terbakar, baik dalam kawasan konservasi, hutan lindung, maupun hutan produksi dan lahan milik masyarakat, kemungkinan bisa lebih luas lagi. Karena, banyak kasus kebakaran yang terjadi beberapa minggu terakhir, laporannya belum masuk”, kata Dindin.

Menurut Dindin, kebakaran terjadi diduga kuat karena kelalaian masyarakat. Terutama para petani yang sibuk mempersiapkan pengolahan lahan kebun maupun pertanian untuk menghadapi musim hujan. Mereka melakukan pembersihan lahan dengan cara pembakaran tanpa disertai upaya pengendaliannya. Hal itu diperparah kondisi tanaman yang kering serta tiupan angin kencang saat pembakaran.

Tanpa sekat bakar

Menurutnya, tidak sedikit masyarakat yang membakar lahan tanpa membuat sekat bakar terlebih dulu di sekitar lahan yang hendak diolahnya. Padahal, Bupati Garut, Agus Supriadi jauh sebelum memasuki musim kemarau, sudah menginstruksikan jajarannya bekerja sama dengan unsur muspika, menyampaikan kepada masyarakat agar berhati-hati dalam melakukan pembersihan lahan dengan cara pembakaran.

Disinggung mengenai kebakaran yang menimpa gugusan Gunung Guntur pada Rabu (11/10), Dindin menyatakan, kebakaran di lokasi tersebut mencapai lebih 130 ha. Kebakaran meluas mulai Blok Awilarangan, Cungurbedul, dan Pasirbajing.

  • Ratusan Penduduk Masih Tertimbun Sampah di Cireundeu, Bandung

Kapanlagi.com – Ratusan warga Kampung Pojok Cireundeu dan Cilimus, Desa Batujajar, Kabupaten Bandung masih tertimbun longsoran sampah, dari TPA Cireundeu, yang terjadi pada hari Senin dini hari (sekitar pukul 03.00 WIB).

Bupati Bandung, H Obar Sobarna, Senin (21/02), mengatakan, sedikitnya 138 jiwa yang menghuni 60 rumah di kedua kampung itu masih belum diketahui nasibnya.

Sementara itu, hingga pukul 14.00 WIB, baru 12 mayat yang berhasil ditemukan antara lain delapan orang di Kampung Cilimus dan empat korban tewas di Kampung Pojok Cireundeu.

Evakuasi korban longsor yang tertimbun di Kampung tersebut mengerahkan lima unit beko dan tiga unit buldozer. Tim evakuasi pertama kali menemukan mayat Ny Iim (35), penduduk Kampung Pojok Cilimus RT01/ RW12.

Selang sepuluh menit tim evakuasi berhasil menemukan mayat suaminya Usep (37) dalam posisi tergencet ruruntuhan yang terkubur sedalam tiga meter. Namun yang sangat memilukan adalah dua putri korban yakni Ayu (3) dan Helma (6) yang ditemukan kemudian tidak jauh dari mayat kedua orang tuanya.

Korban Usep dan Ny Iim tampaknya sudah terbangun saat kejadian karena posisinya berada di ruang tengah, namun diduga timbunan sampah keburu mengurung rumahnya.

Penemuan mayat Uus sempat membuat haru warga setempat yang saat keluarga muda tersebut diusung dengan menggunakan tangga kayu ke Mesjid Nurul Huda yang terletak sekitar 200 meter dari lokasi rumah mereka yang tertimbun.

Upaya evakuasi dipimpin langsung Plh Dandim 0609 Bandung, Letkol Muhamad Saepudin.

Proses evakuasi para korban di kampung itu sangat sulit karena ketinggian tumpukan sampah yang terbawa longsor itu berkisar antara dua hingga tujuh meter.

Sementara itu, menurut data yang diperoleh dari Kantor Kesbang Kabupaten Bandung, jumlah rumah yang tertimbun sebanyak 60 unit rumah dengan penghuni sekitar 138 jiwa.

  • Kebakaran Rumah berhasil dipadamkan

Nopember 5, 2008 — kiranadimas

Selama 2 jam kebakaran yang menimpa 11 rumah petak kawasan Benteng Timur Surabaya berhasil dipadamkan.

Diduga api berasal dari kompor meledak dari kamar milik Sanimah,sang korban. Karena kondisi rumah yang sebagian besar terbuat dari papan, jelas dia, api pun cepat menyebar ke kamar yang ada di samping kanan kiri dan depannya.

Hingga pukul 09.30 WIB, penghuni rumah sedang mengais sisa-sisa kebakaran. Sementara Sanimah hingga kini sudah di police line. Sedangkan tiga orang termasuk Sanimah saat ini sedang diminta keterangan di Polres Surabaya Utara.

  • LUMPUR LAPINDO

Oleh: Yusuf Wibisono
(Dosen Universitas Brawijaya Malang)

Tragedi ‘Lumpur Lapindo’ dimulai pada tanggal 27 Mei 2006. Peristiwa ini menjadi suatu tragedi ketika banjir lumpur panas mulai menggenangi areal persawahan, pemukiman penduduk dan kawasan industri. Hal ini wajar mengingat volume lumpur diperkirakan sekitar 5.000 hingga 50 ribu meter kubik perhari (setara dengan muatan penuh 690 truk peti kemas berukuran besar). Akibatnya, semburan lumpur ini membawa dampak yang luar biasa bagi masyarakat sekitar maupun bagi aktivitas perekonomian di Jawa Timur: genangan hingga setinggi 6 meter pada pemukiman; total warga yang dievakuasi lebih dari 8.200 jiwa; rumah/tempat tinggal yang rusak sebanyak 1.683 unit; areal pertanian dan perkebunan rusak hingga lebih dari 200 ha; lebih dari 15 pabrik yang tergenang menghentikan aktivitas produksi dan merumahkan lebih dari 1.873 orang; tidak berfungsinya sarana pendidikan; kerusakan lingkungan wilayah yang tergenangi; rusaknya sarana dan prasarana infrastruktur (jaringan listrik dan telepon); terhambatnya ruas jalan tol Malang-Surabaya yang berakibat pula terhadap aktivitas produksi di kawasan Ngoro (Mojokerto) dan Pasuruan yang selama ini merupakan salah satu kawasan industri utama di Jawa Timur.3

Lumpur juga berbahaya bagi kesehatan masyarakat. Kandungan logam berat (Hg), misalnya, mencapai 2,565 mg/liter Hg, padahal baku mutunya hanya 0,002 mg/liter Hg. Hal ini menyebabkan infeksi saluran pernapasan, iritasi kulit dan kanker.4 Kandungan fenol bisa menyebabkan sel darah merah pecah (hemolisis), jantung berdebar (cardiac aritmia), dan gangguan ginjal.5

Selain perusakan lingkungan dan gangguan kesehatan, dampak sosial banjir lumpur tidak bisa dipandang remeh. Setelah lebih dari 100 hari tidak menunjukkan perbaikan kondisi, baik menyangkut kepedulian pemerintah, terganggunya pendidikan dan sumber penghasilan, ketidakpastian penyelesaian, dan tekanan psikis yang bertubi-tubi, krisis sosial mulai mengemuka. Perpecahan warga mulai muncul menyangkut biaya ganti rugi, teori konspirasi penyuapan oleh Lapindo,6 rebutan truk pembawa tanah urugan hingga penolakan menyangkut lokasi pembuangan lumpur setelah skenario penanganan teknis kebocoran 1 (menggunakan snubbing unit) dan 2 (pembuatan relief well) mengalami kegagalan. Akhirnya, yang muncul adalah konflik horisontal.

  • GLOBAL WARNING

Baru-baru ini, Inter-governmental Panel on Cimate Change (IPCC) memublikasikan hasil pengamatan ilmuwan dari berbagai negara. Isinya sangat mengejutkan. Selama tahun 1990-2005, ternyata telah terjadi peningkatan suhu merata di seluruh bagian bumi, antara 0,15 – 0,3o C. Jika peningkatan suhu itu terus berlanjut, diperkirakan pada tahun 2040 (33 tahun dari sekarang) lapisan es di kutub-kutub bumi akan habis meleleh. Dan jika bumi masih terus memanas, pada tahun 2050 akan terjadi kekurangan air tawar, sehingga kelaparan pun akan meluas di seantero jagat. Udara akan sangat panas, jutaan orang berebut air dan makanan. Napas tersengal oleh asap dan debu. Rumah-rumah di pesisir terendam air laut. Luapan air laut makin lama makin luas, sehingga akhirnya menelan seluruh pulau. Harta benda akan lenyap, begitu pula nyawa manusia.

Di Indonesia, gejala serupa sudah terjadi. Sepanjang tahun 1980-2002, suhu minimum kota Polonia (Sumatera Utara) meningkat 0,17o C per tahun. Sementara, Denpasar mengalami peningkatan suhu maksimum hingga 0,87 o C per tahun. Tanda yang kasatmata adalah menghilangnya salju yang dulu menyelimuti satu-satunya tempat bersalju di Indonesia , yaitu Gunung Jayawijaya di Papua.

Hasil studi yang dilakukan ilmuwan di Pusat Pengembangan Kawasan Pesisir dan Laut, Institut Teknologi Bandung (2007), pun tak kalah men geri kan. Ternyata, permukaan air laut Teluk Jakarta meningkat setinggi 0,8 cm. Jika suhu bumi terus meningkat, maka diperkirakan, pada tahun 2050 daerah -daerah di Jakarta (seperti : Kosambi, Penjaringan, dan Cilincing) dan Bekasi (seperti : Muaragembong, Babelan, dan Tarumajaya) akan terendam semuanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s